Di sebuah ruangan luas yang dipenuhi beraneka ragam artefak yang memancarkan energi spiritual tinggi, udara terasa dbergetar pelan, Monrest duduk di kursi singgasananya dengan menampakkan wajah merah menahan marah.

"Lynx... pemuda itu kekuatannya semakin besar. Meski hanya kekuatan jiwa yang ku gunakan, itu seharusnya sudah cukup menghancurkan beberapa immortal tahap akhir. Tapi pemuda itu... bahkan terlihat santai saat menghadapiku." Monrest mengingat kembali pertarungannya dengan Lynx. "Kenapa wujudmu berubah? Apakah tubuhmu bermutasi karena meteor itu? Ataukah kamu menggunakan artefak? Apapun itu, membuat kekuatan pemuda itu meningkat drastis. Mungkinkah dia bekerja sama dengan para penyihir itu? Aku harus membunuh anak buahku sendiri karenanya."

Monrest memikirkan berbagai pertimbangan yang mungkin terjadi."Mungkinkah dia kini menjadi iblis karena ulah penyihir itu? Iblis yang setara dengan ranah Dewa?"

Ekspresi Monrest terlihat lebih marah saat membayangkan musuh bebuyutannya memiliki kekuatan di ranah dewa."Dunia ini menolak keberadaan kultivator di ranah Dewa, tetapi bukan berarti kekuatan Dewa tidak bisa hadir disini, seperti halnya senjata Iblis milikku, bisa digunakan sebagai wadah untuk kekuatanku. Hmm... Plasura... apa maksudnya..."

Cahaya lembut dari kristal-kristal di sekelilingnya menyoroti garis wajah Monrest yang tegas, sementara para tetua keluarga Baihuan berdiri di sekelilingnya dengan wajah tegang, tangan terkepal menahan rasa takut yang menjerat dada mereka.

Tatapan Monrest tajam menelusuri seluruh ruangan, seakan bisa menembus rahasia terdalam setiap orang. Suaranya dalam, berat, menimbulkan tekanan seolah udara pun ikut menahan napas.

"Lapor ketua. Sesuatu terjadi kepada salah satu team anggota kita yang menuju desa para alchemist di kerajaan Muyun. Batu jiwa milik mereka hancur, mereka sudah terbunuh." Salah satu tetua memberanikan diri mengganggu ketua mereka yang sedang diam merenung. Keringat dingin membasahi pakaiannya.

PRANG!!!

Monrest menghancurkan gelas yang ada di genggamannya dan melemparkannya. "Mereka semua pantas mati. Mereka dapat membocorkan tentang kita. Aku tidak ingin pihak lain mengetahui keberadaan kita dan merusak rencana kita sebelum waktunya tiba."

Aura Monrest keluar menekan para tetua dan anggota yang berada di ruangan tersebut. "Mulai saat ini, kalian harus bergerak lebih hati-hati. Jangan ada lagi yang berani menyebut keluarga Baihuan, apalagi menyebut namaku saat menjalankan tugas di luar sana. Siapa pun yang berani melanggar… aku sendiri yang akan mencabut nyawanya," ucap Monrest perlahan, setiap kata menancap seperti paku ke hati para tetua.

Para tetua segera menundukkan kepala, hawa dingin dari aura Monrest merambat menuruni tulang belakang mereka, membuat tubuh mereka gemetar menahan takut yang menyesakkan.

"Siap ketua. Kami pasti akan menuruti perintah ketua. "

Semua yang hadir tanpa terkecuali menundukkan badan sebagai tanda siap menuruti perintah pimpinan mereka.

Monrest berdiri perlahan, langkahnya tenang namun mengguncang ruangan dengan energi yang tak terlihat. Aura gelap mengelilinginya, seakan menekan setiap sudut ruangan. "Ada satu hal lagi," suaranya menukik rendah, seperti bisikan maut yang terdengar jelas di telinga setiap orang. "Temukan seseorang bernama Lynx atau Plasura.  Dapatkan informasi tentang dia, tentang orang-orang yang dekat dengannya dan segala sesuatu tentangnya. Seharusnya dia berhubungan dengan desa alchemist dan para wanita yang menyerang tempat kita. Kalian hanya perlu memantau gerak-geriknya, jangan ada yang berani melawannya. Jika ada yang bertindak ceroboh tanpa perintahku, anggap saja kalian sedang menggali kubur sendiri."

"Baik, Ketua Monrest," jawab para tetua serempak, suara mereka bergetar menahan ketakutan yang hampir mematikan.

Setelah semuanya bubar, Monrest menatap kosong ke kegelapan di depannya, tatapannya menyala merah menyala, senyuman tipis namun penuh kebencian tergurat di bibirnya.

"Lynx… setelah semua fragmen senjata iblis kukumpulkan, aku pasti akan membalasmu," gumamnya dingin, nadanya mengirimkan gelombang ancaman yang nyaris bisa dirasakan di tulang.

***

Beberapa hari kemudian, di sebuah laboratorium luas, beberapa orang duduk dengan serius menatap layar monitor besar yang menampilkan anatomi tubuh manusia secara detail, darah dan organ terlihat jelas. Nenek Drona dan kepala desa Linxi, Deng Haoran, terlihat fokus bekerja sama meneliti cara menyembuhkan penduduk Surya yang berada di dalam peti es keabadian. Cahaya monitor menyoroti wajah mereka, membuat bayangan menari di dinding laboratorium yang penuh instrumen aneh dan berkilau.

Setelah Kepala Desa Linxi mendapat kesepakatan dengan Lynx, formasi portal teleportasi dibangun dari desa Linxi menuju desa Surya, ditempatkan di ruang bawah tanah rumah kepala desa. Penduduk desa Linxi yang memiliki token bisa keluar masuk untuk membantu penduduk Surya serta mendukung penelitian Lala. Mereka mengamati berbagai proses ilmiah dengan teknologi canggih yang terlihat menakjubkan di mata mereka. Terlihat di wajah mereka rasa kagum yang tak bisa disembunyikan.

Awalnya, penduduk desa Linxi terheran-heran melihat kondisi desa Surya yang berbeda jauh dari desa atau kota yang mereka kenal. Struktur bangunan yang asing, makanan unik, nama-nama penduduk yang aneh, serta berbagai hal baru membuat mereka tercengang. Saat melihat teknologi tinggi di laboratorium Lala dan ribuan manusia membeku di dalam batu es raksasa, mata mereka melebar, penuh kekaguman, namun mereka segera menyesuaikan diri dengan cepat.

"Tuan Deng, kami memperkirakan ada sejenis parasit di tubuh mereka, tetapi Lynx dan aku telah menelitinya tanpa hasil," kata Lala sambil menunjuk berbagai gambar di layar monitor, suaranya penuh perhatian dan sedikit gelisah.

"Nona Lala, dari gambar-gambar yang kita lihat dan pemeriksaan beberapa hari terakhir, kami belum pernah melihat hal seperti ini. Namun…" Deng Haoran terdiam, pandangannya kosong sejenak, seolah menelusuri ingatan lama yang samar.

Semua orang menunggu dengan hening. Nenek Drona melirik Lala, rasa penasaran dengan jawaban kepala desa Linxi terlihat menumpuk di mata gadis muda itu.

"Setahun yang lalu, aku mendengar kisah dari seorang alchemist yang berkunjung ke tempat kami mengenai makhluk tidak di kenal yang dia sebut dengan Pemangsa Yin," ucap Deng Haoran, nadanya menurun pelan tapi tajam, membuat setiap pendengar menegang.

"Pemangsa Yin? Makhluk apa itu?" Lala langsung bertanya, matanya berbinar dengan rasa ingin tahu, sementara yang lain saling bertukar pandang bingung karena tak pernah mendengarnya sebelumnya.

Deng Haoran menarik napas panjang, berusaha mengingat cerita yang dianggapnya hanya khayalan alchemist tersebut. "Beberapa tahun lalu, alchemist itu menemukan keanehan di sebuah desa. Banyak penduduk tewas dengan wajah kesakitan, yang selamat tampak kebingungan, tidak mengenali diri mereka sendiri. Alchemist itu ahli dalam pengobatan, ia memeriksa mereka dengan teliti, tapi tidak menemukan keanehan sedikit pun."

Semua mendengarkan dengan seksama, hening memenuhi laboratorium.

"Saat ia membawa salah satu orang untuk diperiksa lebih lanjut, di tengah perjalanan tubuh orang itu memburuk, organ-organ melemah, dan ia mengamuk dengan liar. Orang itu tak lagi menyadari sekitar, terjatuh ke jurang, dan tewas. Alchemist itu turun memeriksa, dan melihat sesuatu keluar dari tubuh orang itu. Awalnya ia kira darah… tapi cairan itu bergerak, berubah warna mengikuti benda yang disentuhnya. Sebelum bisa ditangkap, seekor binatang iblis muncul, hendak menyerangnya."

Wajah Deng Haoran mengeras, aura tegang terpancar dari sorot matanya. "Namun sebelum binatang itu menyerang, binatang iblis tak sengaja menyentuh makhluk itu. Tubuh binatang kaku beberapa saat, lalu bergerak kembali… tapi tak menyerang. Matanya kosong, tindakannya kacau, persis kondisi penduduk yang alchemist itu lihat sebelumnya."

"Jadi… makhluk itu bisa menguasai inang?" gumam Lala, bulu kuduknya meremang, napasnya tertahan saat memikirkan kemungkinan mengerikan itu.

"Apa itu inang?" tanya Deng Haoran merasa asing dengan kata-kata tersebut, raut wajahnya serius, menunggu jawaban yang tepat.

"Inang seperti rumah. Sebutan kami untuk tubuh yang dijadikan tempat tinggal oleh mahluk semacam itu," jelas Lala dengan singkat.

Deng Haoran mengangguk perlahan, menekankan setiap kata. "Benar. Ia bisa menguasai tubuh yang di masukinya. Karena sifatnya dingin, gelap, mematikan, bayangan, dan tersembunyi, alchemist itu menamainya Pemangsa Yin yang menakutkan."

Wajah Lala menegang, setelah sekian lama meneliti, setidaknya kini  dia mendapatkan sedikit informasi yang berhubungan dengan kondisi penduduk Surya.

Nenek Drona mengerutkan dahi, perhatiannya menajam. "Lalu apa yang terjadi setelah itu?"

